Catatan pinggiran: Saham, SUN, Rupiah-USDolar, Stress Tes OJK dan Stabilitas

-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 7 Mei 2018:
Hari Jumat lalu saya ditanya seorang wartawan soal saham dan rupiah…

Lalu, kami diskusi di telpon…

Saya katakan apa yang mau diliat? Asing keluar dgn indikator saham turun dan kurs melemah?

Saya jawab asing dan atau aseng (orang lokal yang menggunakan bank kustodian asing, atau rekening efek dan bank nya ada di luar negeri) tidak kemana-mana…

Saya katakan, ada 3 indikator utama yang harus dilihat dalam pembentukan harga di pasar lelang berkelanjutan (continous auction) spt yang dianut IDX, yaitu:

(1) ask inisiator, pemasang order jual yang membentuk harga detik pertama saat turun;
(2) bid inisiator, pemasang order beli pertama yang menyebabkan harga naik;
(3) yang menjual terbanyak di harga jual terbaik setelah harga dibentuk naik oleh bid inisiator dan atau yang membeli terbanyak di harga beli terbaik setelah dibawa turun oleh ask inisiator

Atas 3 parameter itu, kita harus melihat pola perdagangan “asing”. Saya melihat dari situ, asing belum keluar, permutasi perputaran masih di dominan player yang sama.

Lalu, apa yang terjadi? Mereka, lagi menggunakan saham untuk dapat keriuhan pasar uang valas yang lagi ramai.

Saya bilang kalau saham jadi ukuran nanti senin naik lagi tapi nanti turun lagi… naik lagi… terus bwrganti (volatilitas).

Saya nulis bloging ini sambil menikmati kopi sore setelah bercanda dengan teman jurnalis itu “apa gue bilang senen naek lagi, dan barangnya muter disitu situ aja”

Kenapa ramai? Saya katakan karena operasi moneter The Fed kembali aktif di pasar obligasi (US T- Bond), SLF (Securities Lending Faciliries), MBS dstnya.. Itu yang disebut media barat “normalisasi kebijakan neraca The Fed”

Saya pun berseleroh, soal transmisi makro dan mikro (perbankan) terkait ini saya sudah riset, sehingga saya berpendapat soal pola yang telah hipotesisnya saya uji dengan series data besar (BIG data). Bisa dilihat disini http://rizky.elrizky.net/desertasi-doktor-yanuar-rizky-nuh-2016
Atas dasar riset itu, saya berkeyakinan bahwa episentrum akan terjadi jika memang terjadi koreksi besar di volatilitasi pasar sekunder SUN.

Kenapa? Karena, dari uji uang beredar dalam arti luas (M2) faktor diferensiasi suku bunga itu sudah kalah dibandingkan volatilitas SUN di pasar sekunder.

Lalu, kekuatan on-off operasi cadangan devisa BI pun pengaruhnya dari uji yang saya lakukan masih kalah pengaruh dari on-off operasi moneter The Fed.

Jadi, karena Fed aktivasi lagi push-pull operation, maka pasar uang US Dolar rame lagi dimana-mana.

Lalu, apakah ini ada pengaruhnya ke Kurs Rupiah – US Dolar? Kalau kita liat hasil uji kemampuan BI rate sebagai pencipta framework inflasi sasaran (bisa dibaca di penelitian disertasi saya), maka secara konsisten saat tenang dan rusuh memang BI rate tersandera untuk menjaga nilai tukar.

Artinya, ada soalan klasik paska reformasi yang jadi pekerjaan rumah, yaitu importasi bahan baku, barang konsumsi, dan nilai tambah produksi industri nasional.

Dalam posisi itu, secara teknikal arus uang beredar pun dalam posisi tarik menarik operasi moneter negara lain di pasar obligasi akan jadi tantangan dalam mitigasi resiko.

Saya berpendapat, asing keluar atau merontokan secara cepat? Belum terlihat. Karena, meski ada tekanan di pasar sekunder SUN tapi masih terkelola.

Jadi, Kurs bahaya tidak buat perbankan? Saya rasa stress tes OJK ada benarnya. Kenapa? Karena, kalau dibaca hasil olah data disertasi saya posisi Bank secara mikro akan sangat ditentukan oleh postur nilai pasar dari surat berharga, yaitu SUN.

Dari sisi transmisi makro (M2) juga semua tergantung seberapa besar volatilitas SUN aka bergerak.

Jadi, apa yang harus dikelola? Range volatilitas SUN yang tidak berdampak ke pemburukan kesehatan Bank (CAR).

Pendapat saya berdasar olah data yang saya lakukan, Kurs memburuk sepanjang masuh dalam range wajar valuasi SUN maka CAR Perbankan aman.

Berapa range wajar volarili5as SUN? Itu pertanyaan yang jawabannya tak bijak di umbar di publik.

Tapi rasanya, kalau sudah Rp20rebu spt yang dikatakan OJK masih aman bagi Bank, mungkin karena cadangan CAR masih 23 persenan masih jauh di atss 8 persen. Entahlah, bukan saya yang stres tes tapi OJK :)

Lalu, mesti gimana? Ya, saya rasa yang harus jadi sasaran operasi cadangan devisa BI itu ya upaya untuk mengendalikan volatilitas pasar SUN (market maker).

Menurut saya, sepanjang kita bisa jalankan “zona marking” operasi stabilisasi SUN dan menjalankan “strategi off side di OTC SUN dari transaksi asing”, maka stabilitas makro mungkin dapat dijaga meski kurs melemah.

Tapi, bagi rakyat kebanyakan kurs melemah di kelompok menengah ke bawah akan merontokan kemampuan daya belinya.

Bisa jadi pasar keuangan dan bank okok aja, tapi masyarakat bawah kelojotan.

Inilah tantangan profesionalisme dari otoritas di tahun politik. Karena, yang butuh kepemimpinan negara itu rakyat miskin. Kalai yang kaya, ya mungkin mereka sudah tau mesti hedging gimana caranya …

#enjoyAja,
-yanuar Rizky, WNI biasa aja

Sebelumnya elrizky.net

Meraba Pola Intervensi BI-Rupiah dan Peta Jalan Bandarnomics US Dolar (3)

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.