China, India dan Indonesia

-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 11 Maret 2018: Pertama, sebelum lanjut membaca tulisan (bloging) ini harus dipahami dulu sebagai tulisan mengisi waktu dalam lamanya perjalanan pulang ke Jakarta :) .. Jadi, isinya hanya sebatas orat-oret yang terpikir, dan mungkin berguna sebagai sharing…

Kedua, saya ini bukanlah orang yang berlatarbelakang dunia pertanian. Tapi, Alhamdulillah dikasih kesempatan amanah di industri pupuk tanah air, yang membuat saya jadi mengenal dunia pupuk dan pertanian.

Jadi, antara paragraf pertama dan kedua, bisa berhubungan sebab akibat… bisa juga tidak.. Lebay juga intronya…

Pupuk, adalah kunci dalam produktifitas pertanian. Sama halnya dengan makanan bagi manusia, maka pupuk adalah makanan bagi tanaman.

Saya bergurau dengan kawan, bahwa teknologi pertanian dalam pemupukan akhirnya mengalir juga ke beras yang kita makan.

Kenapa beras? Karena, kita pemakan beras, jadi ketahanan pangan rakyat selalu dikaitkan dengan kedaulatan kita dalam mengeloka ketersediaan beras.

Kedaulatan pangan yang saya pahami akan menjadi tujuan utama pencapaian swasembada pangan. Untuk swasembada pangan, padi, maka produktifitas dicapai dengan pemupukan yang tepat.

Pupuk pada dasarnya mengurai rumus kimia tanah (hara) menjadi sesuatu yang dibutuhkan untuk tanaman sampai panen dengan hasil optimum.

Saya menyimak bahwa banyak studi di bidang pertanian zaman old soal unsur hara akan naik produktitas panen pangan dengan pemupukan kimia (urea).

Itulah era, di negeri ini industri pupuk dibangun pertama kali oleh Presiden Soekarno (BUMN pupuk pertama: Pupuk Sriwidjaya).

Para founding fathers pabri pupuk adalah para insyinyur teknik kimia. Karena, dari saya menyimak bahwa untuk padi pada dasarnya pengikatan hara tanah oleh gas dan air.

Senyawa gas inilah yang menjadi 70% bahan baku pupuk kimiawi (urea). Makanya, pabrik pupuk adalah pabrikasi yang meracik rumus rumus kimia.

Jangan tanya saya soal rumus kimia, terakhir saya berinteraksi dengan Kimia waktu SMA lebih dari 25 tahun yang lalu. Itupun saya ngak pernah mengerti, sampai nilai ngak pernah biru selain dikatrol hahaha…

Kita lupakan soal rumus kimia… kita kembali ke tujuan pabrik pupuk didirikan adalah melayani pertanian untuk mencapai produktifitas panen, ujungnya kesejahteraan petani karena keberhasilan panen.

Ketika saya diberi amanah di holding bumn pupuk, sebagai orang berlatar belakang pasar keuangan saya membaca terjadinya sinyal pelemahan industri pupuk.

Apa sinyalnya? Yaitu, menurunnya Demand (permintaan Urea) di pasar internasional. Sehingga, terjadi over suply di pasar internasional. Intinya, harga jatuh, jualan ekspor susah dan marjin laba menurun.

Mungkin, banyak yang belum tahu… Dengan 5 BUMN Pupuk (Pupuk Iskandar Muda, Pupuk Sriwidjaya, Pupuk Kujang, Petrokimia Gresik dan Pupuk Kalimantan Timur), saat ini kita memiliki produksi dengan ekses produksi setelah dikurangi kebutuhan petani (PSO: Pupuk Subsidi) yang besar.

Artinya, secara korporasi, kalau pelaksanaan PSO itu adalah bagian dari kebijakan politik anggaran pertanian pemerintah. Keuntungan, ya so-so sesuai amanat pemerintah itu sendiri.

Bagi orang pasar modal, yang disebut driver pendapatan jika struktur marjin laba bisa meningkat. Marjin laba ini hanya bisa didapat di pasar ekspor.

Marjin ekspor bisa dari negatif sampai ke positif sampai batas langit (sky is the limit). Dua variabelnya, cost leadership dan market driven.

Market driven dengan over suply di pasar global akan membuat marjin laba tertekan ke arah negatif. Hanya bisa positif kalau daya saing dalam biaya (cost) terjadi.

Dua hal ini, sederhananya menjadi game yang mungkin orang senang dengan istilah “disrupsi”

Tapi, saya tak mau terjebak di glorifikasi istilah disrupsi yang membuat publik sebagai penyantap hasil pangan maupun sebagai pemilik saham dari BUMN malah tidak memahami apa persoalannya.

Dari sisi Cost leadership, kita menghadapi “game Inflasi rendah” yang diinginkan negara maju, sehingga mendorong harga komoditas termasuk gas menjadi murah.

Dari sisi fundamental, keinginan teknikal untuk menekan harga gas dilakukan dengan energi pengganti. Ada shale gas di Amerika Serikat dan ada gasifikasi batubara di Cina.

Poatur itu membuat point to point gas sampai ke pabrik pupuk di US dengan Shale Gas dan Gasifikasi Batubara di Cina berada di angka USD 2-2,5/mmbtu.

Disinilah, masalah industri kita, point to point dari sumber gas ke industri tanah air tidak bisa elastis ke “game change” dari substitusi energi yang dilakukan negara maju.

Masalah klasik kita debat kusir soal mafia migas. Tapi, saya tidak mau membahasi itu disini. Biar itu menjadi tugas pencerahan dari kawan-kawan yang jauh lebih tau soal migas :)

Awal saya masuk di pupuk, saya pikir ini soal “daya saing” biaya kita yang tertekan. TAPI, dalam perjalanan saya banyak mendapat sisi pandang global yang mendalam, ini bukan hanya soal itu.

Dalam beberapa kali kehadira saya di acara asosiasi perusahaan pupuk internasional (IFA), saya mendapat benang merah bahwa “game change” di Industri Pupuk juga diakibatkan oleh perubahan kebijakan pertanian sebagai konsumennya.

Studi pertanian zaman now di bidang ilmu tanah banyak yang menunjukan soil tes (hara) sudah mengalami titik jenuh dengan urea.

Marjin produktifitas panen dengan urea menurun, itu kata banyak riset pertanian yang saya simak. Tentu, jangan tanya saya, seperti saya katakan sejak awal saya bukan orang berbekal ilmu pertanian.

Tapi, sebagai orang yang berlatar belakang di pasar modal, tentu saya terbiasa membaca dan mengolah informasi sektoral (industri, mikro) untuk mengambil “mind map” atas korporasi dan industrinya.

Mind map global, menurut sejauh pemahaman saya adalah terjadinya “game change” di sisi demand di industri pupuk, karena kencangnya narasi diet urea dalam pemupukan pangan.

Arah pupuk berimbang, N (urea) dikurangi dan dicampur dengan unsur lain seperti P (Pospat) dan K (Kalium) menjadi tren dalam kebijakan pertanian.

Cina, India dan Indonesia adalah negara-negara yang memegang kunci arah kebijakan pangan. Kenapa? Karena, di 3 negara itu penduduk (yang perlu dikasih makan) terbesar dan petani nya juga menjadi populasi terbesar di negaranya (vote getter).

3 negara ini juga sama-sama menganut subsidi pupuk untuk ketahanan pangan serta membantu cost petani nya.

Maka, Cina, India dan Indonesia adalah produsen sekaligus konsumen pupuk (pangan) terbesar.

Cina memimpin penurunan harga pupuk karena ekses pupuk nya serta Cost rendah dari gasifikasi. Kita terpukul kondisi ini.

Tapi, menariknya Cina sejak akhir tahun lalu meninggalkan pupuk urea penuh ke arah NPK. Di sisi lain, Cina mulai masuk ke tekanan yang selama ini diserang Eropa dan Negara maju soal industri berbasis gasifikasi adalah pencemaran lingkungan.

Setelah siap dengan edukasi petani nya ke NPK, Cina bicara go green. Gasifikasi batubara ditinggalkan dan 40% pabrik amoniak urea akan ditutup.

Satu sisi kita senang suply berkurang karena Cina nutup pabrik. Tapi, jangan lupa Cina juga konsumen terbesar, jadi sisi demand urea juga turun.

Sinyal lain India juga tengah persiapan pindah ke NPK dengan terlebih dahulu memulai perubahan subsidi input (harga pupuk subsidi) ke cash transfer ke petani. Persis dengan yang akan Indonesia lakukan juga di kartu tani.

Anda perlu paham, Cina, India dan Indonesia ini negara besar merubah kebijakan pertanian di petani yang jumlahnya besar tidaklah mudah.

Cina dengan sistem politiknya, masih efektif dalam pola pendampingan petani. India tampaknya akan mencoba digital farming dari model kartu tani nya untuk edukasi kebijakan.

Tampaknya, kita akan memiliki kesamaan arah dengan India.

Saya cukupkan menulis blog ini disini, dalam perjalanan saya pulang mengikuti IFA Conference (Production and International Trade) di Buenos Aires.

31 jam penerbangan ke Jakarta, zaman now di pesawat ada wifi ya orat oret yang saya harapkan netral saja.

Netral, yang hanya didasari berbagi. Sederhana, tapi semoga ini mulai membawa kita semua mulai kenal industri pupuk…

Salam #enjoyAja
-yanuar Rizky, pendapat dalam bloging ini adalah pendapat pribadi yang bersifat sharing sekolah publik di era medsos :)

Sebelumnya elrizky.net

Slide: Harga Komoditas, Inflasi, Pasar Keuangan dan Perbankan Indonesia

Selanjutnya elrizky.net

ftracPoint: Game Persepsi Ekspektasi Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat dan Keriuhan US Dolar

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.