Sinyal Yuan Jokowi dan Trump Effect

-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 7 Desember 2016:
Beberapa teman di fesbuk ini bertanya ke saya soal statement Presiden Jokowi tentang mengganti US Dolar dengan Yuan sebagai acuan. Kemarin ini juga yang dintanyakan beberapa media ke saya…

Begini respon saya:

[1]. Perpektif jangka pendek pasar keuangan masih menghadapi tekanan volatilitas pasar keuangan ke arah sentimen US Dolar.

[2]. Resiko jangka pendek, seperti juga diakui oleh Menkeu Sri Mulyani yang berbicara setelah Presiden di acara saresehan 100 Ekonom di acara Indef kemarin, bahwa dalam posisi pasar keuangan yang seperti saat ini kita menghadapi resiko dari sisi pasar keuangan.

Dimana, meskipun Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi Rupiah tapi serapannya dikuasi asing, terutama peran asing sebagai market maker. Apalagi kalau ditambah utang swasta yang juga back to back dengan aset dan ekuitasnya sebagai underlying hutang di tangan global investment (hedge fund) bankers.

Dengan demikian, kita menghadapi resiko jangka pendek hantaman tehadap Rupiah yang diakibatkan oleh sentimen US Dolar di Emerging market.

Sentimen US Dolar yang kekinian banyak yang mengkaitkan dengan Trump Effect. Apa sih itu?

Intinya adalah pada satu titik tertentu inflasi yang terlalu rendah dalam jangka waktu terlalu lama juga buruk bagi pertumbuhan ekonomi di satu sisi dan konsolidasi dana di negara maju di sisi lain.

Itulah yang terjadi di Amerika Serikat yang sebelumnya menerapkan era Quantitative Easing Policy yang menekan inflasi rendah untuk membuka ruang moneter untuk ekspansi peran pemerintah melalui Surat Utang (Fiskal) yang diperlukan untuk stimulus krisis.

Soal game theory QE ini sudah lama saya menulisnya dari tahun 2008 di media masa maupun blog pribadi saya ini. Tapi, untuk menyegarkan ingatan saya ulang sedikit.

Legitimate order Bank Sentral dimanapun di dunia ini adalah bunga dalam arti policy rate harus dikaitkan dengan Inflasi.

Artinya, kalau ingin bunga rendah maka inflasi harus rendah. Itulah yang terjadi menimpa harga komoditas dan energi yang ditekan ke zona rendah melalui intrumen insentif dana murah Bank Sentral (The Fed) kepada investment bankers yang tengah kesulitan likuiditas, sehingga portpolio di bursa komoditas dan energi komposisinya dalam kuali heddge fund menurun digantikan instrumen makro.

Tekanan kuali portpolio itulah yang membuat harga komoditas dan energi turun, sehingga perannya sebagai pemicu inflasi (inflatoir) menurun. Ruang inflasi rendah by design itulah yang membuka ruang politik bunga rendah Fed Rate.

Bunga rendah di negara maju untuk menyimpan (deposit) yang digoreng juga dengan dana yang dialirkan melalui QE menyebabkan ekses likuiditas di negara maju memerlukan selisih capital gain positif di negara lain. Itulah era dimana negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia dialiri dana-dana panas QE.

Setelah era QE mencapai sinyal pemulihan, maka normalisasi kebijakan diperlukan untuk memicu pertumbuuhan ekonomi negara maju seperti Amerika Serikat kembali ke jalur peran pasar dan swasta. Itulah kenapa The Fed sejak 2013 mengambil kebijakan menghentikan QE (tapering off) sebagai normalisasi kebijakan.

Untuk itu, dibutuhkan dana kembali ke Amerika Serikat untuk memutar uang beredar di dalam negeri bukan lagi dari fiskal pemerintah tapi peran swasta. Kalau hal ini berjalan alamiah, maka inflasi akan naik dan suku bunga The Fed akan naik lagi sebagai magnet dana pulang kampung.

The Fed selalu mengatakan bunga naik, tapi sejak 2013 sampai hari ini belum juga. Karena, inflasi yang naik secara alamiah dari aktivitas swasta dan pasar tidak terjadi. Hal ini juga diakibatkan ada kontra policy yang dilakukan Bank Sentral Jepang (BOJ) yang justru memulai QE (dikenal Helicopter Money) saat The Fed mencabut “insentif” QE nya di pasar. Di sisi lain, tentu saja ada juga Cina yang laten bertarung di perang moneter dengan Amerika.

Nah, inilah yang disebut Trump Effect dimana seperti layaknya politisi berlatar belakang pengusaha yang pragmatis. Dia memberi sinyal setuju Inflasi untuk dikerek naik. Caranya ya dengan menaikkan lagi demand hedge fund ke portpolio komoditas dan energi.

Itulah kenapa sejak Trump menang kita ada juga optimisme karena harga komoditas yang jadi andalan ekspor ektraktif Indonesia mulai terlihat sinyal naik.

Madunya harga komoditas, tapi racun Trump Effect adalah juga resiko kenaikan harga energi konsumsi dalam negeri dan melemahnya Rupiah. Dua hal ini adalah inflatoir bagi Indonesia yang berada di zona net impor.

[3]. Atas dasar poin [1] dan [2] di atas, saya menduga statement Presiden Jokowi soal mengganti Yuan sebagai mata uang pengganti US Dolar didasarkan oleh dua hal, (1) menekan persepsi demand pasar uang Rupiah tidak over shoot ke US Dolar sebagai hedging inflasi; dan (2) bilateral neraca perdagangan Indonesia dan Cina.

Pendapata saya untuk alasan (1) bahkan Yuan Cina sekalipun saat ini menghadapi tekanan yang besar dari sentimen US Dolar. Belum lagi, faktor Jepang yang juga bermain di US Dolar sebagai hedging inflasi Yen. Seperti juga realistis dikemukakan Menkeu Sri Mulyani kita tidak steril soal ini akibat SUN dan Utang Swasta di pasar keuangan dipegang asing.

Dan, menurut riset saya dari data bulan ke bulan dari Januari 2002 – Desember 2014 instrumen pasar keuangan (SUN, Obligasi Korporasi dan Saham) menjadi sarana asing mengambil underlying untuk menikmati volatilitas US Dolar di pasar keuangan Rupiah.

JADI, tidaklah workable mengganti jangkar mata uang ke Yuan disaat besar kemungkinan Yuan juga mungkin menggunakan instrumen portpolio Rupiah untuk menjaga hedging resiko US Dolar seperti yang dilakukan oleh Jepang.

Sedangkan untuk neraca perdagangan Indonesia dan Cina (bilateral, trade to trade) workable untuk dilakukan langsung antara Yuan dengan Rupiah tanpa perantaraan US Dolar. Mungkin saja ini yang dimaksud Presiden Jokowi dengan menggerakan substitusi impor, sehingga volume ekspor kitajuga diserap Cina dari konsukuensi penyerapan impor Cina. Kalau trade to trade bilateral sih sah-sah saja.

Jadi pendapat saya soal Yuan ini sebagai upaya mengurangi inflatoir US Dolar karena neraca perdagangan dengan Cina itu feasible namun perlu upaya kesetaraan (workable) juga dengan penyerapan ekspor kita oleh Cina di sisi lain. Sedangkan untuk menjadi jangkar mata uang untuk impor lain non Cina, khususnya energi dan pangan saya pikir tidak feasible juga tidak workable.

Suka atau tidak, kita menghadapi resiko nilai tukar, inflatoir utamanya di konsumsi pangan dan energi. Kita perlu apresiasi keinginan bilateral trade to trade dengan Cina sebagai mitra dagang yang sinyalnya dikirim Presiden kemarin. Tapi, kita juga perlu mengingatkan Presiden itu bukan obat segala macam masalah.

Paling penting, hedging inflatoir pangan dan energi harus dipikirkan dan dikelola serius mulai dari sejak melepaskan subsidi itu sendiri. Karena, kita mungkin senang dengan Trump Effect di sisi harga komodiitas yang naik sebagai andalan ekpor ektraktif mineral, tapi racunnya naiknya harga konsumsi energi.

[4]. Solusi mitigasi resiko jangka pendek-menengah untuk perbaikan struktur uang beredar jangka panjang, kalau dari saya lebih baik memulai Kampanye Budaya Investasi Lokal dengan integrasi instrumen Fiskal-BUMN-Moneter dalam melakukan stimulus dana masyarakat lokal dan perbankan dalam negeri sebagaimana Usulan Terbuka dalam posting saya sebelumnya di blog ini

Salam #enjoyAja
YANUAR RIZKY, WNI biasa aja

Sebelumnya elrizky.net

Membaca “Fist Travel” Dari Kacamata Produk Investasi (Bodong)

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.