-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 8 Juni 2015: Pagi-pagi seorang kawan yang bekerja sebagai regional sales director dari sebuah perusahaan multi nasional, wa nanya saya soal ketentuan BI soal transaksi rupiah…
Dia bilang mereka kan jual katalisator ke industri pengolahan, dan dari negara asalnya diambil dalam US Dolar selama ini kan dibeli sama industri pengolahan di Indonesia dalam US Dolar juga, karena ada ketentuan BI ini kliennya semua minta compliance ke aturan BI soal transaksi dalam Rupiah…
Saya bilang biasa lah hari gini daya beli turun di konsumsi, renegosiasi kontrak kan biasa apalagi driven by rule… Dia jawab ya kontrak kan tahunan dong, kalau dalam rupiah dengan kondisi US Dolar nya uping price gini kan bisa rugi dong kalau nilainya terus melemah…
Lalu, saya bilang kalau ente forecast average US Dolar di ke rupiah bisa aja.. dia bilang buyernya ngak mau karena aktual kurs hari ini lebih rendah dari itungan forecast average kurs Rupiah dan US Dolar…
Saya bilang, hari gini bisa jualan aja kan bagus, masak mau terus pakai strategi pertumbuhan marjin? Dia bilang, kalau dari induk kan begitu maunya, performance dan renumerasi gue kan dari growth..
Lalu, kata saya, ya udah kalau buyer lu ngak kuat kan case closed ngak belanja lagi, mau apa lu? Dia bilang, ya soalnya untuk ngolah bahan makanan dan juga beberapa energi di pabrik-pabrik kan pakai katalisator impor, pemainnya company gue…
Catatan pagi hari senin ini, selesai sampai disini, sekedar perenungan emang ngak enak jadi bangsa konsumen?!.. untuk ngolah aja di sandera ama ‘strategi off side US Dolar”…
Dan, bisnis yang baik itu memang punya produk yang secara bisnis terus dibutuhkan untuk mengolah kebutuhan. Biasanya, bisnis kayak gini selalu dilakukan game theory pemain dominan, monopoli yang diciptakan dari penguasaan sumber daya dan atau uang beredar…
sumber daya yang kuat, dari pelajaran hari ini (diskusi kecil saya dan seorang kawan) juga terletak di inovasi mengolah nilai tambah sumber daya itu, jadi menguasai teknologi pangan dan energi itulah sekarang keseimbangan baru yang digeser pebisnis negara maju untuk mempertahankan dominasinya.
Disaat negara berkembang yang memiliki sumber daya sadar untuk menguasai sumber dayanya, pemain dominan bergeser ke teknologi pengolahannya…
Itulah kenapa, mungkin bisa menjelaskan, kenapa makanan menjadi inflatoir naiknya inflasi di bulan Mei 2015… karena, bahan baku net importir menyebabkan inflatoirnya kurs rupiah atas US Dolar..
Kumaha atuh? Ya, kita liat kondisi sebagai cermin, agar berpikir positif itu bukan sekedar retorika. Positivisme adalah sikap kita untuk bertahan dan siap bertarung di setiap kondisi, tentunya sambil #enjoyAja 
-yanuar Rizky, WNI biasa aja