-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 12 Juli 2015: Dalam literatur manajemen strategi ada yang disebut dengan ‘strategi pertumbuhan negatif’, atau tindakan yang dengan sadar diambil untuk membuat pertumbuhan negatif (menurun) disaat peluang untuk tumbuh positif ruangnya sebenarnya masih ada…
Kalau mau dirunut, ini ada teori dasarnua dalam ilmu ekonomi, yaitu ‘the law of deminishing return’ .. atau sebuah hukum bahwa semakin bertumbuh maka ada satu titik marjin keuntungannya semakin menurun, dan selanjutnya sampai di puncak pertumbuhan akan turun ke bawah..
Pembalikan arah dari tumbuh ke arah negatif itu disebut dalam bahasa populer ‘krisis’.. tapi, kalau krisis itu adalah sebuah siklus yang ‘pasti darang’, maka munculah yang disebut manajemen krisis, yang disebut SMART Growth, yaitu sebuah strategi yang diambil untuk justru mempercepat proses pembalikan arah ke pertumbuhan negatif…
Idenya kan sederhana, daripada seperti jalangkung ‘datang tak diminta, pergi tidak bilang-bilang’, maka pertumbuhan bukanlah reaksi dari kondisi yang ‘ikut arus’, tapi sebuah aksi “mengendalikan ombak dalam arusnya”..
Teori permainan (game theory) mengajarkan untuk menjadi pengendali, maka anda harus menjadi pemain dominan…
Pemain dominan yang melangkah ke titik keseimbangan baru akan tetap jadi penentu arus ombak, atau jika dia tidak menyadari dan nyaman dalam zonanya akan muncul pemain dominan baru yang menggeser titik keseimbangan baru itu.
Moral dari game theory “pemain dominan” adalah jika diam saja padahal sudah tahu akan ada keseimbangan baru yang korektif (negatif), maka anda akan kehilangan segalanya sebagai akibat lepasnya dominasi. Itulah krisis bagi anda, tapi keuntungan buat lawan anda.
SMART Growth di ranah manajemen strategi, mengajarkan satu hal yang sifatnya intuitif pemain dominan, yaitu berstragi “negative growth” di saat yang tepat.
Yang ingin saya sharing, hati-hati lah melihat negara (perusahaan) dominan yang terlihat ‘krisis’, jangan-jangan mereka lagi mempraktekan permainan berlatih kata-kata di dunia anak-anak. Yaitu, cadelnya anak-anak yang susah melafalkan huruf (r) sering terdengar keluar dari mulut mereka jadi (l). SEHINGGA, modar itu dalam kecadelan menjadi lafal kata modal.
Modar adalah modal untuk yang menjadidikan permainan dalam arus strateginya. Sesungguhnya, yang terjadi sejak tahun 2002 (berdasarkan catatan data yang kami pantau tentunya), sampai dengan hari ini adalah pertarungan titik keseimbangan dari 2 pemain dominan, yaitu The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) yang menemukan lawannya PBC (Bank Sentral Cina). Banyak media di dunia ini kemudian menyebutnya era “perang mata uang”.
Kalau kita dingin melihat ini sebagai penonton yang tidak mudah terombang-ambing framing opini yang sok “dewasa”, maka kewarasan mendengar sebuah persepsi dari kacamata kecadelan anak kecil, menjadi kunci juga sebagai follower yang cerdas, yaitu modar itu ya modal juga di dunia permainan ala pasar keuangan (true believers of market mechanism).
Banyak orang asyik membahas jatuhnya pasar saham Cina sebagai kehancuran Cina, sama seperti orang memaki Amerika Serikat di September 2008 sebagai kehancuran negeri paman sam itu.
Ada yang menarik, ternyata modar nya pasar saham Amerika Serikat membuat mereka sekarang tidak bangkrut-bangkrut, yang bangkrur malah Yunani. Literasinya bahkan di negara berkembang sekarang semua tergantung ke kebijakan tapering off QE The Fed serta ikutannya yang terus mereka mainkan permainan persepsi dominasinya hari ini, yaitu soal naiknya kembali Fed rate.
Di sisi lain, Cina yang dianggap merebut dominasi Amerika Serikat saat krisis September 2008 malahan sekarang sebaliknya dikatakan akan bangkrut dengan anjloknya pasar sahamnya.
Kalau kita pembelajar dan jeli, setidaknya menurut pemahaman saya, ini bagi pemain dominan (The Fed dan PBC) adalah tindakan-tindakan yang mereka ambil dari kacamata “smart growth”. Jadi, kalau liat Cina dari kacamata PBC jangan-jangan sama dengan kacamata The Fed melihat Amerika Serikat sebelumnya, ada sebuah teori kebalikan yang mereka lakukan, jadi bergiliran posisi “on top”.
Menurut pendapat saya, Cina sengaja melakukan penurunan cepat pasar sahamnya untuk memberikan ‘terapi kejut’ kepada kelas menengah mapannya keluar dari zona nyaman, sebelum mereka tidak sadar terseret Tsunami dalam skenario The Fed. Di titik ini, halting sistem perdagangan NYSE menjadi menarik, karena seolah ada sebuah “jeda konsolidasi” yang dilakukan pemain dominan lain.
Jadi, pemain dominan sudah menyadari akan ada “the law of deminishing return”, maka mempercepat prosesnya dalam kendali strategi secara literatur hampir pasti menjadi pilihan pemain dominan. Hati-hatilah mendenar kata “modar” kalau dalam dunia anak-anak yang cadel itu jadi terdengar “modal”. Kurang menyimak, malah kita yang tertawa dan sedih berlebihan yang bisa modar beneran.
Akhir kata, saya sharing posisi membaca strategi The Fed dan PBC paska krisis 2008, dimana sampai kuartal 3 tahun 2010 dana ramai mengguyur emerging market (negara berkembang) seperti Indonesia. Alerting peta strategi dari meraba neraca moneter The Fed dan PBC (2008-2010) ini ada di outlook kantor kami Oktober 2010 untuk klien kami, tentu credit riset dan olah data juga dilakukan tidak hanya oleh saya, tapi tim kami di AIR [inti] – BIG.
Sebagai warga negara biasa saja, setiap ada kesempatan undangan otoritas negara di tahun 2010, saya juga sharing pandangan atas dasar data ini. Termasuk tulisan pagi ini (kalau dibaca yang berwenang), menurut saya hati-hatilah pesimisme berlebihan maupun retorika optimisme berlebihan.
Dalam tata dunia baru, pesimisme dan optimisme adalah “paradoks pembangunan opini pemain dominan”, masa depan ditentulan oleh aksi hari ini dari cermin benggala di masa lalu. Optimisme bukan retorika, karena itu adalah AKSI!
-yanuar Rizky, WNI biasa saja, Chairman BIG (Bejana Investidata Globalindo)

