(sekali lagi) Game Theory dan Nasib Rupiah

-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 3 Agustus 2015: Gini ya kalau mau dilihat itu ada tiga faktor terkait pasar keuangan: (1) Volatilitas; (2) Harga Penutupan; dan (3) Elastisitas Arbitrase antara pasar modal dan pasar uang

Kalau Volatilitas meningkat, maka itu diakibatkan oleh aksi ambil untung jangka pendek (short) meningkat, kalau ini yang terjadi maka teorinya posisi long akan diambil dengan jalan meningkatkan bunga acuan Bank Sentral, agar dana kembali tenang di kuali perbankan..

Di sisi lain, suku bunga acuan itu terkait dgn target inflasi yang dituju dari kebijakan uang beredar (moneter), maka kalau arus liar (volatilitas naik) diketatkan dgn bunga naik.

Saat ini, sejak The Fed memantik isu akan mengambil posisi long untuk konsolidasi pemulihan ekonomi AS, maka muncul “persaingan antara pasar modal dan perbankan”..

Pasar modal mempertahankan likuiditasnya, dengan meningkatkan return jangka pendeknya (short). Kalau ini terlalu lama, maka beban target kenaikan bunga pub gap nya membersar.

JADI, kalau bank sentral mau naikan bunga cost nya membesar, dan bisa jadi bank sentral mundur kalau cost nya terlalu besar.

SO, dari sisi pasar modal cara mereka mempertahankan keseimbangan likuiditas ya memperbesar volatilitas di pasarnya. Kalau ini cara kita melihat, maka kita akan pahami bahwa kenapa semua bursa itu sekarang naik banyak untuk turun banyak, mereka mengejar game short return untuk melakukan cornering suku bunga (yang direncanakan) naik.

Di sisi lain, dengan The Fed mengatakan akan naik tapi terus main layang-layang tidak dimulai kenaikannya, dapat juga dibaca ini juga bagian strategi dari mereka sendiri. Kalau teori berbagi dilakukan di bursa dan perbankan Amerika Serikat yang jadi domain utama The Fed, siapa korbannya?

MAKA, anda harus lihat ke faktor ke (3) arbitrase antar pasar modal dan pasar uang di satu negara, serta pengaruh faktor ke (2) harga penutupan ke inflasi di negara itu.

Kalau saham itu volatilitasnya naik, diikuti naiknya volatilitas kurs mata uangnya di pasar uang US Dolar, maka kelebihan likuiditas di perbankan juga dilarikan ke fungsi treasurry (short) dibandingkan ambil posisi long di kredit. Resikonya, meski suku bunga Bank dibiarkan rendah, biaya bunga di perbankan menaik dikarenakan posisi keuntungan dari volatilitas di pasar uang naik.

Kalau volatilitas di saham naik, tapi di pasar uang tenang-tenang saja, maka biaya return (short) sepenuhnya dibiayai pasar saham. Kalau anda lihat kesini, disinilah bandarnomics The Fed bekerja, dimana US Dolar nya kuat pembiayaan ekpektasi short return dibiayai pasar lain diluar posisi pasar uang perbankannya.

Itu kenapa, anda bisa lihat untuk bursa saham, di bursa New York sekalipun terjadi iklim naik-turun, karena ada game meningkatkan volatilitas (short return) di mesin bursa.

Bagaimana di negara lain? SEBAGAI PEMBANDING, orang ributnya luar biasa liat bursa Cina, tapi sudahkah melihat dampaknua apa ada ke kurs Yuan? Kan, Yuan malah menguat, artinya short (return) di lokalisasi di mesin bursanya juga kan? Artinya, ada bandarnomics antara The Fed dan PBC kan? Itu sudah dibahas lah, memang mereka lagi rebutan pengaruh. TAPI, ujungnya bisa saja win-win, lalu siapa korbannya?

Disitulah kita sedih melihat kondisi Indonesia. KITA kalau diam saja, bukan baru hari ini, sejak lama kita selalu ikut irama keseimbangan dari sang Bandar. Dimana, volatilitas saham kita diikuti pula volatilitas di Rupiah atas US Dolar.Volatilitas ini jika trennya tidak diikuti tren rata-rata harga penutupan kurs dalam posisi melemah, maka ini sebatas game antar pasar yang lagi melakukan “playing victim” di antara para pemain pasar keuangan itu sendiri.

Tapi, jika trennya penutupannya melemah, maka korban (victim) ada di luar stadion pasar keuangan, yaitu sektor riil dan konsumsi masyarakat yang harus membayar biaya bahan baku lebih mahal (inflatoir net importir) dan atau biaya modal kerja yang lebih sulit dan mahal (meski, misalnya BI rate belum naik, tapi inflasi sudah naik dan volatilitas pasar uang telah naik).

NAH, sekarang kita dihadapkan oleh fakta di birokrasi malah melakukan “playing victim” di antara mereka. Misal, Menteri Keuangan bertutur Rupiah menembus ke Rp13.500 bukan urusan pemerintah, tapi urusan Bank Indonesia. Di sisi lain, BI sendiri sering mengatakan perannya adalah menjaga volatilitas, dan pelemahan sesuai trennya.

Kalau dibedah dari logika game theory dalam paragraf awal tulisan ini, siapa yang salah? Karena, kalau sektor riil dan konsumsi terganggu masa iya bukan tugas pemerintah? Lalu, apa benar kita mampu dominan dalam menjaga volatilitas pasar keuangan terhadap volatilitas Rupiah – US Dolar?

Hanya saja, dari sisi pemain dominan strategi global (bandarnomics) ya mereka senang-senang aja kita kan jadinya ribut sendiri, bukannya kata peribahasa “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”?

JADI, saya rasa jika berpendapat hanya akan menunjukan suasana makin tak kondusif, maka sebaiknya diam saja. Dan, sekali lagi harmonisasi dan sikronisasi kebijakan fiskal – moneter penting dilakukan, meski dalam senyap.

Itu yang harus dilakukan pemerintah, janganlah ikut kurva. KALAU tidak bisa merubah arah kurva, paling tidak lakukanlah kebijakan teknikal jangka pendek yang membaca arah ke depan kurva sang bandar. Sehingga, itulah respon kebijakan penting-genting dilakukan untuk mitigasi perekonomian nasional.

Respon yang pas, akan mampu memberi modal sosial memperbaiki fundamental ekonomi, dalam aksi jangka menengah. Jadi, untuk sampai ke tengah, tanpa pernah mengarungi ombak di pesisir pantai yang lagi pasang, rasanya juga ngak akan pernah melaut selain saling menyalahkan kenapa ombak besar.

Strategi adalah aksi! Semoga saja, pemimpin dapat efektif dalam sinergi kebijakan, efisien dalam aksinya dan ekonomis menjaga keseimbangan ekonomi bagi rakyat kebanyakan.

Salam #enjoyAja,
-yanuar Rizky, WNI biasa aja

Sebelumnya elrizky.net

Teknokrasi, Politisi, dan Penumpang Gelap

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.