-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 7 Oktober 2015: Menurut Keynes saat ekonomi lesu, maka motif perilaku likuiditas akan cenderung untuk berjaga-jaga akan kekhawatiran akan masa depan
Keynes, lalu meyakini bahwa faktor suku bunga akan mengkompensasi ekpektasi tabungan untuk berjaga2 itu…
Lagi, menurut Keynes selama marjinal dari kenaikan suku bunga akan sampai titik menurun, ketika marjin bunga atas inflasi semakin menurun digantikan marjin investasi yang lebih baik (expected of return)
Itu kenapa, Keynesian menganggap belanja pemerintah disaat lesu harus agresif untuk meningkatkan uang beredar disaat uang sektor swasta mengendap di tabungan… uang pemerintah inilah yang diyakini akan menurunkan marjin bunga atas inflasi, sehingga bergerak ke investasi…
Teori ini disanggah oleh Friedman, orang yang dikenal sebagai monetaris. Menurut Friedman, suku bunga (bank) bukan satu-satunya variabel yang mempengaruhi ekspektasi return dan atau kompensasi inflasi atas likuiditas masa depan.
Friedman mengatakan, perekonomian modern juga dipengaruhi oleh pasar keuangan, yaitu tingkat keuntungan (gain) dari perdagangan surat berharga, baik saham dan atau obligasi.
Sehingga, ekpektasi soal bunga tidak akan efektif, selama pasar memiliki ruang keuntungan mengkompensasi inflasi dan atau keuntungan jangka pendek.
Singkat cerita, terjadi persaingan antara perbankan dan pasar keuangan. Sepanjanh pasar keuangan dapat memberi ruang keuntungan marjinal melebihi inflasi dibanding suku bunga, maka uang akan berputar-putar.
Kemarin Rupiah melemah, harus dilihat bahwa ruang marjin keuntungan dari arbitrase “short sell” instrumen rupiah punya ruang keuntungan. Dan, ini tentu akan memyempit, kalau uang dan instrumen yang diputar adalah barang lama.
Kalau dia menyempit, logikanya bunga bank akan naik. Maka, akan ada crash di pasar keuangan tertentu. Kenapa, tidak didorong crash? Tentu, jawabannya harus dilihat ke ‘mix theory’ antara keynes-friedman yang dianut tante Yelllen yang saat ini memegang kendali di The Fed.
Ada soal angka serapan pengangguran yang melambat di AS. Ada juga soal trade defisit di AS yang naik. Serta, inflasi di AS pun angkanya masih dibawah perkiraan. Artinya, bunga Bank masih lebih tidak menarik, dan mendorong perekonomian di AS dibanding marjin yang dihasilkan pasar keuangan.
Pasar keuangan pun, jika “sell off” dilanjutkan, likuiditasi di pasar uang telah menurun marjinnya. Atas dasar likuiditas barang yang sama yang digoreng, biar tidak gosong harus diangkat dulu.
Apa nanti tidak digoreng lagi? Kalau melihat empiris dengan dasar mix-theory dari Keynes-Friedman, rasanya ini terlalu pagi mengatakan sudah selesai. Kalau pakai game theory Nash, ini soal keseimbangan yang dikendalikan pemain dominan.
Apakah Rupiah atau US Dolar yang dominan mengendalikan keseimbangan? Saya rasa, tidak ada hal baru, pemain dominan masih The Fed, kita hanya beruntung diantara ruang sempit mereka. Ingin lepas dari itu, tidak ada yang instan, tapi harus dimulai…
mau darimana? Itulah masalah kita, ini soal bangsa. Sepanjang kita saling menyalahkan diantara kita sendiri, dan alsani (alasan sana sini) saat menguat atau melemahnya Rupiah ini, maka kita hanya bermain ilusi ditengah pemain dominan asyik terus dengan gorengannya.
Mau kuat mau lemah, poinnya ya aksani (aksi sana sini), agar kita tetap terjaga saat gorengan ini dibolak balik. Tidak ada yang instan, tapi harus dimulai. Tariik Mang… asoy geboy gedebug huhuy… #enjoyAja
-yanuar Rizky, WNI biasa aja