Jangan Ulang Cara Lama, Kunci Perbaiki Defisit Neraca Berjalan

-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 9 Agustus 2019:

Tren Harga Minyak dan Neraca Berjalan Indonesia

1. Tahun 2004, terjadi yang disebut dengan mini krisis, dimana pertarungan moneter antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, disekskalasi dengan perang harga minyak, dampaknya ke Indonesia saat itu adalah Defisit Neraca Berjalan

2. Tiongkok saat itu (2005) melakukan relaksasi kebijakan mata uangnya, anduk putih karena kalah di masalah inflasi energi sebagai negara net importir minyak terbesar.

3. Lalu, pasar yang tenang, diikuti naiknya harga batubara, karena tingginya permintaan impor Tiongkok. Kita diuntungkan, neraca berjalan surplus dari ekspor batubara. Seiring, munculnya Orang Kaya Baru para juragan lapak batubara…

4. Buat apa Tiongkok besar-besaran mengumpulkan batubara? Jawabannya, negeri kungfu panda ini melakukan gasifikasi batubara. Untuk, kepentingan energi gas bagi listrik, dan industri diolah dari gasifikasi batubara.

5. Tahun 2008 bumerang naikkan inflasi global tahun 2003-2005 menghantam Amerika di waktu berikutnya, yaitu naiknya bunga KPR karena Fed rate naik di periode itu membuat terjadi gagal bayar oleh nasabah berpenghasilan rendah (sub prime)

6. Pilihan ke inflasi rendah dan bunga rendah, membuat perang harga minyak (crude oil) tidak bisa lagi jadi pilihan. Amerika Serikat menginsentif energi baru, shale gas, yang lebih murah dari gas alam dan gasifikasi batubara.

7. Meski harga crude oil kondusif, tapi menurunnya demand batubara karena Tiongkok juga ditekan soal dampak lingkungan gasifikasi batubara, serta munculnya shale gas, menyebabkan neraca berjalan Indonesia tertekan dan terus defisit akibat pemilik lapak batubara pun dari tadinya OKB jadi OMB (Orang Mumet Baru).

8. Yang menghawatirkan, setelah era shale gas dan gasifikasi menekan crude oil, tapi neraca berjalan kita terus defisit. Artinya, bukan faktor harga minyak mentah tapi volume konsumsi impornya.

9. Belajar dari paman sam dan tiongkok, mitigasi energi bukan barang instan. Tapi, memang disiapkan, seperti gasifikasi batubara dan shale gas menyelamatkan babak selanjutnya tidak lagi di energi bagi Amerika vs Tiongkok…

10. Masalah warisan ini, di seminar-seminar sejak krisis 2008 selalu dikatakan soal hilirisasi, stop impor minerba mentah dan energi alternatif.

11. Kedua hal ini menjadi wacana seminar, tapi tidak solid dikerjakan.

12. Kemarin saya baca di salah satu news wired, Tiongkok akan melepaskan tarif impor dan kuota untuk Sawit, Bunga Matahari dan Soy Bean

http://www.china.org.cn/business/2019-08/08/content_75078142.htm
13. Mungkin, itu akan jadi berita baik seperti 2005 di Batubara, kita akan tersenyum Sawit kita diserap Tiongkok setelah dikampanye negatif Eropa yang punya bunga matahari.

14. Tapi, yang mesti dibaca. Tiongkok seperti saya dengar sendiri dari pejabatnya saat saya menghadiri acara asosiasi pupuk (IFA) di Shanghai tahun 2017 bahwa politbiro (PKC) sudah menggariskan untuk go green, melepas tekanan barat di pabrik yang dijalankan dari gasifikasi batubara. Bahkan, 40% pabrik amoniak dan urea dari batubara langsung ditutup.

15. Bacaan saya, Tiongkok akan ke green energy, mengganti gasifikasi batubara. Itu kenapa, mereka memberi insentif ke bahan baku green fuel, yaitu sawit, bunga matahari dan Soybean.

16. Hilirisasi sawit ke green fuel harus kita lakukan. Saya pernah melihat riset teknologi Teknik Kimia ITB telah mampu membuat teknologi Katalis yang mampu memisahkan asam di sawit dan inti sawit menjadi bensin, diesel dan avtur.

17. Kalau kita sepakat sebagai bangsa ke arah itu, mungkin jangka pendek seolah kita membuang kesempatan positif neraca berjalan dari ekspor sawit. Tapi, jangka menengah saat babak selanjutnya perang moneter (dagang) kita sudah punya substitusi impor katalis dari bahan baku petrochemical ke agrochemical yang kita punya dari olahan sawit rakyat. Juga, mengatasi masalah volume energi dari dalam dengan green fuel.

18. Coretan ini, saya hanya menulis, eksekusi tentu menjadi ranah kita semua sebagai bangsa, menghidupkan #budayaInvestasiLokal … karena, Investasi bukan hanya soal banjir uang, tapi juga membendung uang dan barang sebagai sumber industri berbasis Indonesia negara agraris yang tertidur (revitalisasi Pertanian).

19. Sekedar catatan, sepanjang pengetahuan yang saya tau dari perjalanan hehe.. semoga, Quick Win konkrit dari teknokrasi kebijakan, tereksekusi bukan tomat (tobat tapi suka kumat)… #enjoyAja

-yanuar Rizky, WNI biasa aja,

Sebelumnya elrizky.net

Kita Dan Bumerang The Fed: Kejarlah Inflasi, Aset Financial Dikumpulkan Warganya

Selanjutnya elrizky.net

Misreading Mobil Listrik vs Misleading Mobil Petrol: Meraba Babak Baru Trade War (

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.