Membaca “Digital Economy” Dari Sepeda Di Shanghai

-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 28 Oktober 2015:
Dalam kesempatan mengikuti IFA (Asosiasi Produsen Pupuk Dunia, International Fertilizer Association) Asia Pacific Cross Road, saya sempat jalan kaki keliling lihat-lihat kehidupan kota Shanghai. Udara sepanjang hari 15-17 derajat juga mendukung untuk jalan kaki.

Dalam perjalanan di setiap sudut kota Shanghai kita akan liat sepeda-sepeda parkir… setiap orang boleh pakai asal punya “AliPay” uang digital keluaran “AliBaba” nya Jack Ma…

Sepeda Sewa Shanghai

Sepeda Sewa Shanghai

Sambil jalan setelah nanya soal itu sepeda sewa dengan “Ali Pay”… saya bilang ini dia heboh soal Digital Economy. Tapi, apa benar melihat Digital Economy suatu negara hanya dari sisi bisnis digital model Ali Baba?

Saya membacanya tidak begitu, karena sepeda ini pun yang buat adalah pabrik-pabrik di Cina, yang dibeli pemerintah daerahnya. Dan, lalu biaya sewa saja oleh konsumen.

Apa poin saya, ada sektor riil yang bekerja (kedaulatan produsen), dalam contoh ini pabrik sepeda dan seluruh komponen partnya. Kalau bekerja, maka ada penyerapan lapangan kerja dan barang yang laku.

Kalau kita lihat hanya di hilir soal Uang Digital atau market place “Ali Baba” kalau kata saya bisa sesat…

Kenapa bisa sesat? Ambil contoh bisnis model sepeda pemda Shanghai ini… kalau diterapkan di Jakarta, bisa? Bisa lah…

Kunci Buka Sepeda BarCode

Kunci Buka Sepeda BarCode

ini seperti gambar di atas dibuka pakai “bar code” dari smart phone dari saldo “Ali Pay” kebuka lah kunci ban belakangnya… kalau selesai di “bar code” lagi karena biaya sewa per menit..

Gampang kan? Lalu kita bilang itu digital economy? Aaah masa?

Kalau sekedar “copas alibaba di hilir” terus sepeda nya buatan Cina, lalu siapa yang kerja di sektor riil nya? Ya orang Cina… jadi, ekonomi tetap butuh produsen sektor riil kan?

Kita jangan tersesat sihir “copas bisnis digital” tapi semakin jauh dari menggerakan sektor riil nya..

Janganlah bergerak mengikuti kurva, apalagi kalau kurva produksi nya masih ketinggalan nanti kita hanya jadi penonton meski merasa keren dengan banyak istilah …

Yang unik adalah Pak Tua ada yang merawat sepeda ini seperti melap sepeda-sepeda ini dengan sepeda listrik yang saya yakin buatan Cina juga.

Sepeda Pak Tua

Sepeda Pak Tua

Poinnya, kita jangan lupa membangun dulu industri (sektor riil). Soal ini Tiongkok sudah lebih dulu, saat ini digitalisasi memang revolusi, ya revolusi untuk membuka pasar sektor riilnya.

Kalau membuka pasar dengan digital tapi barangnya dari impor, itu tersesat!. Jangan lupa, ekonomi perlu utuh kebijakan dan aksinya dari hulu ke hilir di atas kurva kita sendiri dan mendahului kurva dunia kalau bisa… bermimpi mendahului kurva dunia tanpa mau tau dan membangun “titik nol” di dalam negeri hanyalah ilusi.

Kita bisa, kita mampu, maka bersatu kita akan menyelesaikan masalah ekonomi yang adil dan bekerja penuh.

Ini jelas hanya celotehan sambil jalan kaki, jadi #enjoyAja

-yanuar Rizky
WNI biasa aja..

Sebelumnya elrizky.net

Sinyal siaga, pertarungan Pengendalian paska kesepakatan “Divestasi 51%” saham Freeport

Selanjutnya elrizky.net

Meraba Daya Beli dari UUD (Ujung Ujungnya Duit)

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.