Mitigasi Resiko Krisis Ekonomi, Perlu Kesadaran Kolektif Menempatkan Kepentingan Bersama (Indonesia) Sebagai Pilihan Utama

-Yanuar Rizky’
elrizkyNet, 15 Mei 2017:
Tahun 1929 Bursa New York terjadi Crash, setelah itu merembet ke perekonomian Amerika Serikat (juga dunia).

Yang paling jelas dalam catatan sejarah dampaknya terhadap Indonesia dapat kita baca dalam pledoi Bung Karno di Persidangan Hindia Belanda (1930) dengan judul Indonesia Menggugat, dan makalah Bung Hata dengan judul Daulat Rakyat (1931).

Bung Karno kurang lebih mengatakan kami disuruh tanam paksa rempah-rempah yang hasilnya tidak kami nikmati melainkan untuk membiayai krisis industri negara-negara barat.

Bung Hata kurang lebih menuliskan negara negara maju (barat) industrinya bangkrut, bank-bank nya tutup membawa dampak kepada Indonesia meski tanah negerinya subur tapi tidak membawa kemakmuran untuk rakyatnya.

Di Amerika Serikat sendiri itu melahirkan kemenangan pemilu bagi partai Demokrat dan Presidennya Franklin D. Roselvelt (FDR) yang juga dalam Ekonomi dikenal era Keynesian, dimana Keynes melakukan koreksi atas mekanisme pasar (invisible hand) Adam Smith tanpa peran negara menjadi adanya peran negara untuk keseimbangan pasar. Bahasa politik ekonomi FDR menyebutnya “New Deal”.

Apakah New Deal yang menciptakan keseimbangan baru dan pemulihan krisis paska Crash 1929? Beberapa literatur, mengatakan ya. Beberapa lainnya, agak nakal mengatalan New Deal hanya menggiring sampai sinyal pemulihan, tapi keseimbangan baru tercapai setelah puncak konflik kepentingan antar negara diselesaikan melalui Perang Dunia ke 2. Dimana, Indonesia pun merdeka (1945).

Dunia terus berjalan kembali, ekonomi pasar terus berjalan dengan menara gading simbolnya di bursa saham, sampai tahun 1987 terjadi crash (juga) di Bursa New York yang dikenal Black Monday. Dimana, dalam 1 hari itu di hari Senin saham-saham harganya jatuh besar-besaran.

Itu adalah era Ronald Reagen dan Partai Republik (1981-1989) yang dikenal juga sebagai era koreksi kembali arah ekonomi Amerika yang terlalu ‘stock market’ dan melupakan pasar kredit ke sektor Riil. Saat itu, Gubernur The Fed namanya Paul Volcker yang telah menjadi Gubernur The Fed sejak Presiden sebelumnya (Jimmy Carter).

Volcker menjadi Gubernur The Fed (1979-1987). Banyak kalangan di bursa saham mengatakan Black Monday (crash 1987) adalah puncak ketidakpercayaan pasar kepada Volcker (berita New York Times 1987: http://www.nytimes.com/1987/11/08/magazine/volcker-on-the-crash.html?pagewanted=all) Karena, itu tadi Volcker bertumpu ke pertumbuhan kredit sektor riil dari Perbankan dibandingkan price modelan bursa saham.

Setelah itu, Paul Volcker digantikan Alan Greenspan (1987-2006), yang diyakini lebih mengerti pasar dan “brand Equity” personal Greenspan pun kita bisa ukur dikenal sebagai “market leader”.

Benarkah figur Greenspan yang melokalisir masalah black monday hanya di market dan tak merembet jadi depresi ekonomi seperti Crash 1929? Tidak ada jawaban yang pasti, hanya saja kita tau 1990-1991 dunia dilanda Perang Teluk, yang dipicu konflik Iran-Irak.

Paska perang teluk, Asia menjadi pusat pertumbuhan dana-dana global di pasar Keuangan. Futurolog John Nashbit mengatakan Korea Selatan dan Indonesia adalah new wave pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Rating dan beragam ukuran model pasar diperoleh dua negara ini, juga negara negara asia lain yang jadi target investasi dana global.

Tahun 1996 era bubble pasar Asia mulai tampak, tapi balonnya baru pecah (crash) di 1998 dipicu oleh krisis politik. Baik Korsel maupun Indonesia mengalami krisis politik saat itu.

Itulah era dana-dana global mencapai format (kembali) keseimbangan baru.

Lalu, crash kembali melanda bursa new york (2008) dan ini tampaknya menyeret depresi ke ekonomi seperti 1929.

Sejarah berulang Obama dan Demokrat menang, bahkan Volcker menjadi penasehat Ekonomi Obama sampai dikenal Volcker Rule yang mengkorekao pricing model bursa kembali ke rasio-rasio kredit sektoral di Perbankan. Bahkan, Yellen yang saat ini Gubernur The Fed pun tahun 1979 adalah staf Volcker.

Lalu, Trump dan Republik menang. Problem utak atik gatuk kemudian timbul pertanyaan menggelitik, apa skenarionya perang dunia seperti pemulihan crash 1929? Perang kawasan, perang teluk seperti mini crash black monday 1987? Ataukah, krisis politik di pusat pertumbuhan emerging market seperti 1998?

Semua sinyal itu tampak, modelan provokasi Trump jelas bisa menyulut perang kawasan maupun lebih luas lagi. Tapi, melihat sinyal Indonesia hari ini jujur saya gundah….

Kita berada dalam konflik politik, karena tidak ada titik temu. Cara demokrasi sudah dilakukan, cara hukum kita terbelah dengan sama-sama “ngotot”. Kalau 1998 soal rezim, Soeharto. Hari ini bukan soal rezim, tapi soal antar masyarakat.

Mohon maaf, saya sebagai WNI biasa saja yang hidup di era digital (medsos) menahan diri bicara politik pilihan di ruang medsos sebagai kontribusi kecil agar tidak tambah berisik dan bertikai tidak perlu dengan teman WNI lainnya.

Hari ini, dalam tulisan ini saya memberi kontribusi yang juga kecil dari yang terpikir dari yang saya kerjakan sebagai profesional sejak tahun 1997 yaitu membaca sinyal pasar keuangan.

Saya gundah membaca internasionalisasi kasus politik antar kita di media-media barat, dan sebagian dari kita menikmatinya sebagai senjata viral argumentasi pilihan politiknya (maaf kalau saya menyinggung, dan kalimat ini menjadi di salah mengerti).

Saya rindu Bung Karno dan Bung Hata yang menyadarkan bangsanya tentang bahaya terseret membiayai krisis Industri negara-negara barat.

Kemarin di WA Grup 100Ekonom, ada makalah Prof Dr Boediono di acara Mubyarto Policy Forum di UGM. Banyak paragraf kalimat mantan Wapres yang juga Profesor Ekonomi itu menarik didiskusikan. Saya posting sekedar tanggapan di WAG itu seperti ini:

[Banyak paragraf per paragraf yg menarik didiskusikan dgn pengkayaan fakta-fakta (fenomena) dalam kehidupan sehari-hari…

Satu hal yg menggelitik, ulasan pak Boed tentang pelemahan koefisien Gini jelang krisis ekonomi (moneter) 1998 dan pemburukan setelah itu, serta pembalikan arah yg lebih lambat krn pergeseran struktur ekonomi ke harga komoditas serta kalau saya interpretasikan juga soal berkembangnya aset finansial sbg alat kekayaan

Pak Boed menyatakan kembali ke angka kemiskinan sebelum krisis di tahun 2013…

Tapi, lalu ekonomi dalam posisi kembali melemah, sunbernya pusat pertumbuhan harga2nya anjlok, yaitu harga-harga komoditas…

Inilah kenapa isu kesenjangan, gini ratio ramai lagi… bahkan sejak sebelum pemilu 2014…

Saya pernah ditanya investor asing (hedge fund) soal potensi krisis ketika pelemahan kurs, saya katakan tidak ada krisis yg akan terjadi tanpa dipicu krisis politik…

Bapak Ibu Ekonom, ini yang sekarang hangat dibicarakan di new wave kelompok “kaya” soal aset finansialnya, apakah koreksi akan terjadi? Jika dalam spread value yg over limit jelas butuh isu besar…

Yang menghawatirkan gejala konflik politik yg tdk kunjung usai… selesai pilkada serentak 2017, ada pilkada serentak 2018 dan ada pilpres pileg 2019…

Isu tdk mengering, bahkan becek dgn generasi digital yg terus berkonflik… maka, dugaan saya bukan soal kesenjangan yg akan memicu, tapi krisisi politik yg akan dipakai utk “koreksi harga” utk keuntungan optimum market maker pasar finansial kita (yg juga sangat senjang distribusi floatingnya)

Menjadi relevan, apakah kita masih bisa melakukan mediasi konflik dlm struktur pertumbuhan (sumber) yg melemah…

atau kita akan gagal dan bom waktu kesenjangan dan ketimpangan kepemilikan aset itu akan meletus (bubble) krn terpicu politik….]

Saya….. dan juga anda…. adalah WNI… sebagian dari kita kelas menengah atas mungkin cukup premi asetnya untuk mitigasi krisis… sebagian lainnya kelas tengah asyik berasu jari-jari di medsos berkelahi, sebagian lain masa vs masa… yang kasyian tetap aja rakyat yang terdampak jika ekonomi menjadi crash.

Saya rasa sejarah mengajarkan tidak ada krisis ekonomi di negara berkembang (emerging market) yang punya sumber daya dan menjalannkan ekonomi terbuka tanpa didahului oleh perang dan atau krisis politik dalam negerinya.

Pilihan ada di masing-masing kita, saya harus percaya agar tak menambah krisis kepercayaan, kepemimpinan Presiden Jokowi akan mengutamakan negara ini lebih dahulu.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh (bagi saya generasi sekolah tahun 80-90 itu kata-kata yang ada di buku PMP: Pendidikan Moral Pancasila dari SD sampai penataran P4 100 jam di hari pertama kuliah).

Salam #enjoyAja,
Yanuar Rizky, WNI biasa aja

-orat oret ini hanya suara salah satu WNI menulis yang terpikir, saya tak berniat dan tak tertarik untuk debat kusir politik dan SARA.

Sebelumnya elrizky.net

Sinyal Presiden Jokowi: Pilkada DKI, Ketimpangan Sosial dan Isu Redistribusi Lahan

Selanjutnya elrizky.net

Catatan Lepas “Heboh Beras…”

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.