Sinyal siaga, pertarungan Pengendalian paska kesepakatan “Divestasi 51%” saham Freeport

-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 31 Agustus 2017:
Divestasi 51% Freeport pernah juga terjadi di Newmont.

Newmont (holdingnya yang listing di Bursa New York / NYSE) dalam proses Divestasi selalu meyakinkan investor nya bahwa Newmont Nusa Tenggara (NNT) akan tetap dalam pengendalian Newmont.

Saya baca begitu juga Freeport Mc Moran (FCX) dalam rilisnya korporasi nya di NYSE menyatakan kesepakatan divestasi 51% ke Indonesia akan tetap memiliki posisi pengendalian di Freeport Indonesia. (Lihat rilis FCX dalam capture)

Rilis FCX

Kata kunci “Pengendalian”, maka itu akan mengacu ke Standar Akuntansi (IAS, IFRS) menyatakan jika tidak ada yang 51%, maka pengendalian akan dilakukan di jumlah saham terbesar, baik sendiri-sendiri maupun proxy.

Jebakan betmen lain adalah pengendalian hanya bisa dilakukan di Investasi (Investment Holding) bukan di Portopolio.

Ujian Presiden Jokowi dan pemerintahannya baru saja dimulai. Sebagai rakyat biasa, saya menaruh TRUST yang besar bahwa “51%” bukan hanya soal angka yang kemudian dikacaukan dengan “Divide et Impera” oleh pihak lawan yang akan melemah karena potensi kehilangan pengendalian.

Apa maksudnya? Di Newmont Nusa Tenggara 51% ini dipecah2 ke Pemda (BUMD), Perusahaan Nasional (swasta) dan pemerintah pusat. Pada waktu itu Pemda nya juga “dibiayain” swasta, dan pemerintah pusat eksekusi dalam posisi portopolio (PIP: Pusat Investasi Pemerintah) bukan perusahaan investasi (BUMN).

Jadi, kalaupun dibagi ke pemerintah daerah (BUMD) ya skema fundingnya harus dari BUMN lah, dan eksekusi pemerintah pusat juga di BUMN, sehingga proxy pengendalian 51% masuk dalam skema laporan keuangan konsolidasi.

Swasta nasional? Ini dia, pemecah proxy selalu dilakukan di model “papa minta saham” karena yang divestasi punya kepentingan menjaga “49%” sebagai proxy terbesar. Memecah 2,01% saja dari divestasi 51% ke pihak ketiga modelan “papa minta saham” sudah jadi kunci sukses mempertahankan pengendali bagi Freeport Mc Moran.

Kawan yang baik dari pujian adalah kritik. Orat-oret ini hanya mengingatkan saja hal baik akan berhasil jika kita belajar dari masa lalu. Saya percaya pemerintah tau apa yang akan dilakukan dan tetap alert (waspada) terhadap jebakan off-side lawan.

Adu kuat, dan game theory divestasi ini ada di “pengendalian”. Harga wajar saham pun bisa kita mainkan dari “sihir pengendali”, kuncinya buang jauh “papa minta saham” dan aktor eksekusinya harus jelas dalam kendali Investment Holding korporasi milik negara (BUMN)

Kata Bung Karno “Jadikanlah Masa Lalu menjadi Cermin Benggala hari ini untuk melihat masa depan”. Saya percaya pemerintah mampu, asal kosentrasi dan siaga atas jebakan offside kaum kabir (Kapitalis Birokrat). Merdeka!!!

Salam #enjoyAja,
-yanuar Rizky, WNI biasa aja

Sebelumnya elrizky.net

Membaca “Fist Travel” Dari Kacamata Produk Investasi (Bodong)

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.