Tiket pesawat mudik mahal?

-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 3 Juni 2019:
Emirates, dalam banyak jurnal ilmiah (penelitian) soal daya saing (strategic cost management) di industri penerbangan, merupakan contoh klasik tentang merubah industri ke arah tiket “murah”…

Ada jurnal yang pernah saya baca, bukan yang link yang jadi referensi (https://centreforaviation.com/analysis/reports/unit-cost-analysis-of-emirates-iag–virgin-about-learning-from-a-new-model-not-unpicking-it-147262) ganmbar di atas, ya search aja sendiri deh di google scholar (mesin pencari khusus jurnal ilmiah), bahwa emirates bisa membuat fix cost menjadi “sharing cost” yang dihitung sebagai unit cost yg terbagi dalam banyak destinasi nya ke banyak negara…

Di jurnal yang saya baca itu, diceritakan bahwa itu dimulai dari mimpi Sultan Dubai yang ingin bandaranya jadi conecting hub dari banyak negara menuju ke negara lain…

Dalam jurnal itu dikatakan, yang dicontoh adalah Changi Singapore, dimana dari Asia kalo mau kemana-mana via Changi naik Singapore Airlines…

Kajian konsultan sang Sultan Dubai mengatakan kalo bandara dubai diperbesar, maka akan lebih berdaya saing dibanding Singapore, karena geografisnya di tengah, bahkan dari asia selatan (india) bukan hanya asia tenggara

Singkat cerita Dubai memulai dgn bandaranya, lalu Emirates memukul banyak airlines karena struktur harga pokok nya turun, tiket lebih murah dari airlines lain…

Pola ini diikuti oleh Qatar dengan bandara Qatar dan Qatar Airways nya… juga tetangganya Sultan Abu Dhabi…

Apa benang merahnya, interkoneksi membuat biaya turun… Garuda misalnya membeli pesawat besar padahal bandara tidak siap, interkoneksi (hub) bandara kita tidak siap…

Gitu juga Lion agresif beli pesawat gede tapi ngak bisa bandara nya jadi interkoneksi..

Hipotesis saya (karena saya belum liat dan atau meneliti angka-angka harga pokok di laporan keuanhan Airlines negeri kita), kenapa akhirnya tiket tidak murah lagi, ya karena semua mengalami masalah yang sama beban biaya investasi besar pesawat besar dengan utilisasi rendah, dipaksa untuk jarak pendek domestik membuat fix cost naik… ujungnya, ya gitu deh…

Dibandingkan dengan ke luar negeri, ya jelas seperti saya bilang airlines di luar punya daya saing harga lebih efisien. Akarnya, integrasi antara airlines dan bandara sebagai hub…

Misal bandingannya dengan Air Asia, coba liat Air Asia bisa mengambil cerukan low cost airlibes yang tak jadi pasar high end seperti Emirates dikarenakan bandara Kuala Lumpur juga direvitalisasi menjadi interkoneksi (hub). Tapi, high end nya Malaysia Airlines tetap kalah sama Emirates, Qatar. Bahkan, Singapore Airlines pun dipaksa promo terus di Indonesia.

Jadi, ya lagi-lagi gitu deh kaka…


#enjoyAja
-yanuar Rizky, WNI biasa aja

Sebelumnya elrizky.net

Catatan Pinggir(an) Dari Panggung Debat Capres: Infrastruktur, Pangan, Energi dan Lingkungan Hidup

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.