-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 12 Juni 2015: Setiap saya ketemu dengan orang yang saya kenal, bahkan bertemu tidak sengaja, pertanyaannya seragam ‘kok rupiah masih terus tergerus ya?’.. Keseruannya bertambah seminggu ini, karena saham juga terkoreksi.
Pertanyaan kenapa begini begitu, jika dalam messenger di gadget saya ditanyakannya, maka saya jawab ini penyebabnya sudah saya jelaskan 4 tahun lalu di Kompas 19 Oktober 2011 arsipnya bisa dilihat klik disini
Saya juga mengatakan bahwa ini bukan hal baru, bagi saya sendiri sinyal akan terjadinya resiko hari ini telah saya tulis sejak awal terindikasi terjadinya insiatif bank sentral negara maju dalam berstrategi. Strategi itu sendiri adalah aksi, insiatif hari ini untuk mendapatkan hasil di masa depan. Sehingga, sejak 2003 saya sudah menulis di media, bicara di udara tv dan radio, serta tentu saja di blog saya ini.
Posisi saya ketika bicara resiko saat keadaan tampak baik-baik saja tentu dapat dipandang sebagai sebuah pendapat (analisa) yang menakut-nakuti kata kalangan mainstream maupun kekuasaan. TAPI, hari ini ketika resiko itu tampak dan riuh rendah, maka banyak pihak termasuk kalangan mainstream dan otoritas bicara seperti yang saya utarakan sejak awalnya (begining from the end).
Setidaknya, butuh waktu hampir 8 tahun, sejak pertama kali saya menulis di Kompas akhir tahun 2007 tentang jurus baru The Fed dalam monetary baseline nya (Quantitative Easing) diaktifkan, dan akan beresiko bagi negara berkembang di masa yang akan datang. Saat resiko itu tampak, pendapat lama saya (barangkali) menemukan jalannya untuk dipahami sebagai sebuah fakta.
Pada tanggal 28 Mei 2015, media asing banyak memuat pernyataan Paul Singer “This is a new Big Short” untuk menggambarkan situasi pasar keuangan global saat ini. Singer adalah seorang global hedge fund yang mengelola dana besar di pasar keuangan, sehingga tentu pendapatnya lebih robbust dibandingkan saya misalnya bicara di Maret 2015 soal posisi ‘short saham’ tampak dari kenaikan IHSG saat itu, saat saya menanggapi kunjugan Presiden Jokowi ke Bursa Efek Indonesia yang menjadi headline atas ketakinannya IHSG akan 6000 dan ekonomi Indonesia baik-baik saja.
Singer mengatakan kebijakan QE yang ditempuh Bank Sentral negara maju (The Fed, ECB, BOJ) menekan suku bunga acuan rendah telah menyebabkan bunga obligasi (bond) menjadi rendah. TAPI, di sisi lain QE juga mengalirkan dana stimulus moneter ‘buying program’ surat utang pemerintahnya. Singer bilang berarti itu adalah era ‘shorting bond’.
Mungkin, bagi anda yang tidak terbiasa di pasar keuangan tidak terlalu paham apa yang dimaksud posisi short. Untuk itu, secara singkat dapat dijelaskan 2 posisi yang diambil oleh investor pasar modal (bursa) sebagai motif transaksi kepemilikan surat berharga (saham dan atau obligasi), yaitu posisi long dan posisi short.
Posisi long adalah sebuah posisi yang dilakukan oleh investor untuk motif memiliki. DIMANA, keuntungan investasi diharapkan investor dari bagian laba perusahaan (deviden) pemegang saham dan atau pembayaran bunga obligasi di investor surat utang.
Artinya, posisi long memerlukan kondisi makro ekonomi yang stabil. KARENA, kenaikan harga (inflasi) dapat dikompensasi oleh pendapatan deviden dan atau suku bunga obligasi.
Singer mengatakan bahwa QE menekan suku bunga acuan bank sentral rendah, tapi (dalam bahasa saya menerjemahkan substansi Ucapan Singer selanjutnya) Bank Sentral negara maju itu sendiri menjadi ‘bandar’ likuiditas di bursa Obligasinya. Kalau dalam bahasa saya dalam berita Kompas 19 Oktober 2011, mas BEN dari Kompas memilih kata yang tepat “menggetar-getarkan asetnya memicu volatilitas di bursa”
Apa artinya? volatilitas dalam arti turun-naik silih perganti dari perdagangan bursa itu berarti jika anta aktif beli di harga terbaik (best bid) dan jual di harga terbaik (best ask), maka anda akan dapat selisih perdagangan surat berharga di tingkat return yang melebihi ekpektasi deviden dan atau bunga obligasi yang rendah.
Posisi itu jelas memicu anda untuk ‘short’ seperti kata Singer, karena anda punya intensi spekulasi untuk menggetarkan aset surat berharga yang anda punya sebagai sumber pendapatan (return investasi).
Posisi Short itu selalu menimbulkan spekulasi. KARENA, anda akan terpicu membeli surat berharga saat anda belum punya uangnya karena anda memperkirakan harga akan naik dalam hari yang sama dan atau antar hari yang pendek (short buying). Sebaliknya, anda juga bisa terpicu menjual tanpa punya surat berharga itu diakibatkan utungan anda harga akab turun di hari yang sama atau antar hari yang pendek sehingga barangnya bisa anda beli kemudian (short selling).
Posisi short, suka tidak suka menjadi darahnya lukiditas transaksi bursa. ITU kenapa ada istilah transaksi perdagangan di bursa itu adalah investasi ‘high risk, high return’. Karena, jika anda ambil posisi short, maka akan ada resiko kegagalan tatkala proyeksi anda meleset. Ketika anda short buying, dan harga malah terus turun, maka tanpa cadangan dana (marjin) anda akan gagal bayar. Sebaliknya, jika anda short sell dan taunya harga malah terus naik, maka tanpa cadangan pinjam meminjam surat berharga (marjin, securities lending and borrowing) anda akan gagal serah.
Singer mengatakan ‘shorting bond’ menjadi calculated risk, karena dana QE dari Bank Sentral negara maju menjadi pemberi fasilitas marjin likuditas.
Ok, saya kembali ke statemen saya di Kompas 19 Oktober 2011, serta tulisan-tulisan saya sejak Oktober 2007. Saya mengingatkan sebuah alert bahwa buying program sebagai dana likuiditas bank sentral negara maju terlihat indah di awalnya, tapi berbahaya sekali di masa depan.
Untuk menjalankan bandarnomics, anda harus menjadi pemain dominan di pasar keuangan. ANDA harus (1) menguasai arus uang beredar dan surat berharga beredar dan (2) menguasai isu beredar yang berkiblat ke posisi anda sebagai bandar.
Itulah, yang saya telah ingatkan sejak awalnya, diborongnya SUN dan saham tatkala uang likuiditas QE mengalir sampai Q3 2010 oleh asing, menunjukan bandarnya asing yang ambil marjin ke QE nya The Fed.
Ketika mereka telah kuasai baranngnya, seperti berita Kompas 19 Oktober 2011 saya ingatkan ini sudah operation twist, duitnya dikurangi, likuiditas dari kertas ke kertas surat berharga. Jadi, digetar-getarkan (digoreng) sendiri dengan barang (aset kertas) yang mereka telah kuasai dari akumulasi marjin dana untuk buy dana QE sebelumnya. MAKANYA, volatilitas naik.
Jadi, bagi saya yang terjadi hari ini, ya game ‘shorting Rupiah via Surat Berharga’ yang terus terjadi, dan dipicu ke ‘heart rate’ yang semakin menguras stamina perekonomian Indonesia (yang inflatoir dari kurs, karena net importir) seperti yang saya alert di 19 Oktober 2011 di Kompas.
Hal baru, mungkin sekarang saya banyak kawannya. Sekelas Gubernur BI pun saat ini statementnya sudah ikut ke cara saya mengalert public statement di 4 tahun yang lalu. Maafkan Pak Gubernur kalau tersinggung, bukan maksud saya mengatakan Bapak follower saya. Sungguh, tak ada niat untuk itu, ini hanya menegaskan posisi analisis saya sebagai kontribusi kepada negeri yang saya cintai, konsisten telah saya suarakan sedari awal.
Permainan ini masih akan berlangsung. Ada 2 indikator yang ingin saya alert melalui blog ini. Permainan isu yang diaktifkan The Fed untuk menyudahi era pembandaran ‘shorting bond’ di pasar keuangan, yaitu paska dihentikannya QE (tapering off) akan diikuti oleh (1) kenaikan bunga acuan The Fed secara pelan-pelan dimulai Januari 2015; dan (2) memaksa via regulasi (Volcker Rule) agar perbankan di Amerika Serikat tidak lagi melakukan aktivitas investment bankers, jual beli surat berharga per Juli 2015.
KEDUA hal itu, sungguh, menurut saya sudah jadi alat “mainkan” saat ini. DIMANA, suku bunga acuan selalu dikatakan akan naik tapi tidak dimulai seperti yang direncanakan, dan lalu pemberlakuan Volcker rule pun digeser tidak jadi Juli 2015, diperkirakan ke 2016 /2017.
Bacaan 2 indikator ini, dimana inflasi sudah naik secara global akan tetapi kompensasi bunga acuan rendah menyebabkan orang seperti Singer mengatakan ini menjadi era terbuka untuk ‘shorting bond’ dikarenakan kompensasi inflasi pun dicari dari volatilitas bursa. INI juga saya kira yang membuat Gubernur BI mengatakan tekanan dinamika Global masih 1-3 tahun lagi. BACAAN saya, ya karena Fed main-main dengan 2 hal yang mereka tebar sebagai isu.
Akhirnya, jika kita tak mengambil aksi, maka kita tak berstrategi. BEDA posisi analis dan pengambil kebijakan adalah analis kredibilitasnya ditentukan kecermatannya memetakan risk & return di pasar keuangan, sedangkan pengambil kebijakan (memerintah) ditentukan oleh aksinya melindungi kepentingan rakyat kebanyakan agar berstamina daya belinya ditengah gejolak global ini.
Berkeluh kesah siapa yang salah, hanya menunjukan pemerintahan yang senangnya main isu politik. JADI, saatnya membenahi, dan bekerja secara cerdas, cerdik dan cermat. DAN itu, tak cukup hanya dengan terus main isu infrastruktur.
Semoga kita, sebagai bangsa dipimpin seperti peribahasa ‘bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’. Dan pesan Bung Karno “Jangan engkau lihat masa depan dengan mata buta, jadikanlah masa lalu sebagai cermin benggala untuk melihat masa depan”
Salam #enjoyAja,
-yanuar Rizky, WNI biasa saja