-Yanuar Rizky-
elrizkyNet, 24 April 2015: Soal buang saja IMF, saya jadi teringat jelang pertemuan G-20 paska krisis di bursa wall street September 2008..
Saat itu Februari / Maret 2009, Cina melalui bank sentral nya (PBC) meminta dilakukannya reformasi struktural di tubuh organisasi IMF, termasuk penggunaab US Dolar yang diusulkan diganti oleh mata uang ‘global’ yang tak mengacu kepada salah satu negara..
Pada waktu itu Cina didukung Rusia.. dan juga sedikit angin dari Jerman.. kalau diingat, itu juga sejarah awalnya Indonesia kemudian masuk dalam G-20.
Isu reformasi IMF ini masih terus disuarakan Cina secara ‘soft power’ dan Rusia secara ‘hard power’… respon IMF sendiri untuk meredakan ketegangan tuntutan itu adalah melakukan reformasi ‘voting right’ di IMF, dimana memberi ruang voting lebih lebar kepada pasar keuangan berkembang (emerging market) seperti Cina (ref: link statement IMF di berita Reuters tahun 2010).
Rusia dengan Putin menjalankan serangan yang lebih terbuka, sampai Putin di semester kedua 2014 memimpin terbentuknya Bank BRICS yang dia katakan menjadi wadah diluar IMF.. BRICS terdiri dari Brazil, Rusia, India, China dan South Africa.. (ref: berita pendirian Bank BRICS sebagai kontra IMF)
Menjadi menarik statement Presiden Jokowi di kongres KAA soal ‘buang IMF, World Bank dan ADB’ jika diraba ke geo politik di dunia ke bank sentralan yang jadi domain IMF sejak tahun 2009.
Kenapa? Karena, soal itu memang yang Cina menginginkan perebutan ‘magis IMF’ melawan Amerika Serikat di sisi lain (tersirat namun tak terang-terangan tersurat).
Kalau dari tekanan Bank BRICS, menjadi menarik memang karena 3 dari 5 negara inisiator Bank tersebut ICS (India, China dan South Africa) adalah juga peserta KAA..
Yang menarik adalah dimasukannya ADB dalam pidato Jokowi. Karena, dominasi Jepang yang besar di ADB, dimana Jepang juga anggota KAA.
Kalau ditelaah ke episode paska krisis wall street 2008, terjadi ‘Chiang May Initiative’ dalam bentuk SWAP cadangan devisa ASEAN +3 yang difasilitasi oleh ADB. +3 nya adalah Cina, Jepang dan Korsel.
Ke 3 negara +3 awalnya sempat ‘harmonis’ dengan menyatukan koordinatif monetary baseline, tapi secara historis politik ke 3 negara ini memang berseteru satu dan lainnya dalam sejarah perang di kawasan.
Sehingga, saling dominan satu sama lain sulit dihindarkan. Berbeda dengan BRICS yang berbuah alternatif Bank BRICS, tampaknya ADB mengalami masalah kekompakan secara sejarah dominasi antara Cina dan Jepang.
Geo politik tak bisa dihindarkan dalam membaca pidato Presiden Jokowi. Sebagai kekuatan negara berkembang melawan dominasi barat seperti dasa sila Bandung adalah ruh yang historikal jika semangat perlawanan disuarakan.
Tapi, yang menarik petanya saat ini lebih ke perang tersirat namun tak tersurat. Dan, sesama negara KAA pun telah ada yang memainkan dominasi, bahkan bersaing satu dan lainnya.
Yang juga menarik adalah kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi di awal pemerintahannya ke China, serta Jepang. Karena, menjadi menarik tampaknya ada nuansa kolaboratif dan moderating diantara Cina dan Jepang. Karena, surat utang negara (SUN) berdasarkan asal negara banyak dipegang oleh Jepang.
Disatu sisi, bagaimana sikap Amerika Serikat ditengah kendali US Dolar dalam uang beredar emerging market, serta carry trade Yen ke instrumen US Dolar melalui instrumen emerging market negara lain seperti SUN? Ini adalah pertarungan ‘game theory’ dari geo politik dari sinyal-sinyal pidato serta bandarnomics nya di pasar keuangan.
Ujungnya ‘pikirkan strategi negara, untuk kepentingan bangsanya’ pasti akan jadi pilihan tiap negara. Yang menurut konstitusi politik luar negeri kita bebas aktif, dan para founding father selalu mengatakan cita-cita kemerdekaan adalah konsolidasi modal nasional (berdikari). So, strategi adalah aksi! Semoga, kita sedang menjalankan strategi menuju bangsa berdikari seperti cita-cita kemerdekaan. #enjoyAja
–yanuar Rizky
WNI biasa aja